Kamis, 27 September 2012

Tour de Pacitan - Ponorogo (part III)


Badan yang pegal dan berkeringat sudah sangat ingin merasakan air, beruntung kami menemukan SPBU yang bisa kami gunakan untuk sekedar menumpang mandi dan beristirahat. Sambil menunggu antrian mandi, kami gunakan waktu untuk beristirahat sejenak. Tangan terasa gatal karena satu hari satu malam tak mengutak atik hp gara-gara tak ada sinyal di pantai. Di mushola SPBU kami mengatur rencana perjalanan selanjutnya, apakah akan langsung pulang atau melanjutkan perjalanan ke rumah Ninda di Ponorogo yang berwaktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Pacitan. Kegalauanpun terjadi di antara kami, setelah berdiskusi akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Reyog. Namun, Tofan tidak dapat melanjutkan petualangan karena dia punya janji dirumahnya (sangat disayangkan).
Dengan ketidakikutsertaan Tofan berarti terjadi kekurangan motor. Namun, itu bukan masalah, karena Ninda rela untuk naik bus dari Pacitan sampai Ponorogo demi kami, tapi untunglah dia tidak sendirian, ada saudaranya di Pacitan yang ingin liburan kerumah Ninda, keberuntungan lagi :). Tepat persiapan sudah dilakukan untuk keberangkatan, hujan lebat datang mengguyur Pacitan, karena hujan tak kunjung reda, kami sepakat untuk memakai mantel dalam perjalanan. Sekitar pukul 11.30 kami meninggalkan SPBU menuju Ponorogo, demikian juga dengan Tofan yang akan pulang ke Ponjong (kami cukup khawatir kepadanya karena harus pulang sendirian, tetapi kami percaya, si gondrong pasti bisa :P). Ninda juga sudah mendapatkan bus, yang akan mengantarkannya pulang menuju tanah kelahirannya. Awalnya jalan raya Pacitan-Ponorogo, biasa saja, tak ubahnya dengan jalan lain, hanya sedikit becek, kamipun santai berkendara beriringan ditemani oleh hujan. Hujan reda, tapi sekarang giliran perut yang lapar, kami memutuskan untuk makan dan beristirahat di warung makan pinggir jalan, sekalian sholat dzuhur. Setelah cukup kenyang, kami melanjutkan perjalanan, jalan Pacitan-Ponorogo kami telusuri. Semakin jauh kami berkendara, pemandangan yang ada hanya sungai dan tebing yang tinggi, serta beberapa kali melewati pemukiman. Jalan ini memang dibangun sesuai alur Sungai Grindulu (sungai terbesar di Pacitan). Jalan yang berkelok-kelok mengikuti kelokan sungai ini. Saat menuju Ponorogo, kanan jalan berupa jurang dan kiri jalan berupa tebing yang cukup tinggi. Relief yang kasar didaerah ini sepertinya yang memaksa pembangunan jalan yang mengikuti alur sungai.Sekian lama perjalanan, akhirnya kami tiba di perbatasan Pacitan-Ponorogo, sebuah prasasti besar bertuliskan "Welcome to Pacitan" bila menoleh kebelakang menjadi tanda batas administratif kedua daerah ini. Sesuai saran Ninda, setelah sampai dipertigaan Slahung, kami harus belok kekiri, kami pun mengikuti sarannya. Jalanan dari Slahung hingga Ponorogo adalah jalanan yang lurus dan mulus, cukup kontras dengan jalanan saat masih di Pacitan yang berkelok-kelok dan kurang mulus, tetapi itu adalah sesuatu tantangan bagi kami. Sekitar pukul 14.30, kami tiba di alun-alun Ponorogo, cukup bingung memang saat tiba didaerah yang belum pernah kami datangi, karena kami ber-delapan belum ada yang pernah singgah di Ponorogo. Akhirnya kami parkir di area parkir Masjid Agung Ponorogo. Tak lama kemudian, datang Ninda bersama bus dan saudaranya. Setelah Ninda tiba, kami memintanya untuk berkeliling disekitar alun-alun Ponorogo. Dari gerbang masjid terlihat bangunan modern yang cukup megah, dan ternyata gedung itu adalah Kantor Pemkab Ponorogo, kami sebelumnya tak menyangka kalau itu kantor pemkab karena bentuknya yang cukup megah. Disekitar alun-alun dan kompleks kantor pemkab terdapat beberapa patung singa, Dewi Songgolangit, dan seorang lelaki, patung-patung tersebut berukuran jumbo dan semuanya berwarna hitam. Patung-patung ini pastilah, simbol-simbol dari mitos Reyog Ponorogo yang tersohor itu. Kami tak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil gambar di sekitar tempat ini.




Sekitar pukul 16.00 kami meluncur ke rumah Ninda, kami hanya mengekor dibelakang Ninda, karena pengetahuan kami tentang jalanan di Ponorogo benar-benar "blank". Yap..Ninda memang mengendarai motor yang sebelumnya dia sudah dijemput ayah dan adiknya di alun-alun. Sekitar 20 menit perjalanan kami tiba di rumah Ninda yang berada di kaki Gunung Wilis, tepatnya di Kecamatan Jenangan. Sampai dirumah Ninda, layaknya orang bertamu adalah menjaga sopan santun untuk menghormati tuan rumah. Wajah-wajah lusuh kami tak menyurutkan niat kami untuk "jaim" di depan keluarga Ninda. Ayah dan ibu Ninda sangatlah ramah, beliau berdua benar-benar menyambut kedatangan kami, walaupun mungkin dalam pikirannya "anakku kok punya teman lusuh-lusuh begini ya..:P *intermezzo). Awalnya kami dengan teguh menjaga sopan santun kami, akan tetapi ada godaan yang mencoba membuyarkannya, bau duren. Yapp...penciuman kami mengindikasikan kalau bau duren itu datangnya dari dapur. Kesopanan kami runtuh karena tak kuasa menahan respon syaraf kami untuk menunjukkan sikap "bau duren ini enak". Dimas adalah orang yang pertama kali menyinggung bau ini dengan nada mupeng :P. Tak lama, datanglah Ninda dengan sepiring duren dan sepiring kelengkeng :D. Sekuat tenaga kami mencoba menahan kelakuan kami karena orang tua Ninda yang masih berada di ruang tamu. Namun tak lama, orang tua Ninda meninggalkan ruang tamu, selang beberapa menit sepiring duren telah habis, dilahap si jago makan. Sepertinya Ninda dan keluarganya sudah tau kalau yang bertamu dirumahnya kali ini adalah segerombolan musafir, yang datang dari negeri nan jauh dan belum pernah merasakan nikmatnya duren Ponorogo. Kemudian datanglah beberapa bulatan berduri hinggap dihalaman rumah Ninda, ternyata kami dibelikan duren lagi oleh keluarga ini (jadi enak nih :P). Kali ini kami yang membuka buah untuk mendapatkan selaput tipis putih menggoda yang ada dalam bulatan berduri, dan kami menikmatinya di teras rumah Ninda. Malam pun tiba, kami benar-benar merasa terurus saat berada dirumah Ninda, makan malam sudah disiapkan, diberi tempat untuk bermalam (baca: tidur). Namun kebaikan keluarga ini tidak berhenti sampai disini, karena besok adalah hari yang menyenangkan :)

Senin, 26 Desember 2011
Pagi sudah datang, keluarga Ninda sudah sibuk dengan aktivitas paginya saat kami membuka mata. Kami sudah berencana kalau hari ini akan digunakan untuk berkeliling sekitar Ponorogo sebelum pulang siang nanti. Sesuatu yang tidak kami rencanakan datang, salah satu paman Ninda menawari kami untuk pergi ke Telaga Ngebel menggunakan mobil pick-up nya. 

Kami pasti dengan senang hati menerima tawaran itu, tetapi dengan anggukan malu-malu kami menerima tawaran itu :P. Setelah mandi dan sarapan kami berangkat menuju Telaga Ngebel. Di mobil itu tidak hanya ada kami bersembilan, tapi ayah, adik, paman, dan beberapa keponakan Ninda juga ikut, maka jadilah kami berwisata bersama keluarga Ninda. Kalau diperhatikan diantara keluarganya, tubuh nindut cukup kecil, padahal kalau di kampus Ninda dipanggil dengan panggilan Nindut yang artinya " Ninda gendut" :D. 


Telaga Ngebel adalah sebuah danau yang berada di kaki Gunung Wilis dengan jalanan berkelok-kelok untuk mencapainya. Sesampainya di pos retribusi Telaga Ngebel, tiket kami dibayari oleh ayah Ninda (aduh, jadi enak lagi nih), kami hanya bisa senyum-senyum,wkwk.

 Telaga Ngebel ternyata cukup ramai, karena terdapat pasar, kantor kecamatan, dan panggung hiburan di tepi telaga, panggung ini terdapat spanduk besar (yang katanya) artis terkenal di Jawa Timur, sayangnya pas kami datang panggung itu sepi tak ada aktivitas. Telaga Ngebel sepertinya sudah populer di telinga penduduk sekitar area Ponorogo, karena fasilitas dan infrastruktur yang ada terawat dengan baik. Beberapa fasilitas itu antara lain jasa kapal cepat dan sebut saja kapal pelan. Karena merasa mumpung bisa datang ke tempat ini, akhirnya Aziz, Topik, Hermawan, Dian, Hasan, dan aku menjajal kapal cepat yang familiar disebut speedboat itu. Sang kemudi speedboat adalah seorang lelaki setengah baya berambut agak panjang, memakai topi, dan berparas ramah. Ini adalah pertama kalinya aku naik speedboat, sehingga pengalaman ini adalah pertama kali dan belum pernah terekam dalam memoriku. Kami berenam naik ke dalam kapal dan mesin kapalpun telah diaktifkan. Sang kemudi pun dengan lincah menginjak pedal gas dan bermanuver ditengah telaga sambil menikmati indahnya area telaga. Sekitar 15 menit sudah kami menjajal kehebatan sang kemudi ini dan kembalilah kapal ini ke dermaga peraduannya. 



Sambil menunggu ninda dan keluarganya yang sedang naik kapal, kami nikmati pemandangan di area telaga sambil menikmati snack ala kadarnya. Tak lama kemudian keluarga Ninda pun ikut bergabung meramaikan suasana. Diantara beberapa keponakan Ninda, ada seseorang yang cukup berkesan dalam ingatan kami, Adly namanya. Bocah gendut usia sekitar 2 tahun itu tingkahnya begitu lucu dan juga pintar. Suatu saat nanti pastilah dia jadi anak yang cerdas :). Kami tak akan lebih lama bertahan di telaga ini karena siang nanti kami akan kembali ke kota pelajar. Sekitar pukul 11.00 kami meninggalkan telaga Ngebel, diajaknya kami ke beberapa pedagang duren ngebel yang yummy itu sebagai oleh-oleh. Beruntungnya kami bisa pergi ke tempat ini pada saat musim duren, jadi kami punya kesempatan untuk mencicipi buah yang lezat ini, juga dibawa ke rumah. Setelah belanja duren, kami ditraktir oleh ayah Ninda disebuah warung kelapa muda khas Ponorogo. Tampilannya tak jauh berbeda dengan es kelapa muda pada umumnya, tetapi rasanya memang lebih enak dan segar.

Sekitar pukul 13.00 kami sudah tiba di rumah Ninda, setelah makan kami packing untuk persiapan pulang. Sekitar pukul 14.00 kami berpamitan dengan Ninda dan keluarganya, kami mengucapkan banyak terima kasih karena selama di rumah Ninda kami benar-benar merasa terawat :D. Ninda mengantarkan kami hingga ke Ponorogo kota. Tina dan Hasan langsung mudik kerumah mereka masing-masing dengan menggunakan bus. Setelah mengantar mereka ke terminal, kami tinggal berenam melanjutkan perjalanan pulang dengan sepeda motor. Hal yang menarik adalah ketika melewati batas Propinsi Jawa Timur-Jawa Tengah (Ponorogo-Wonogiri) kondisi jalan berubah tepat dibawah perbatasan dari yang tadinya mulus, menjadi agak bergelombang, sudah beda manajemen pikirku. Pukul 16.30 kami tiba di Kota Wonogiri, disini kita mampir sholat Ashar dulu di masjid agung Wonogiri. Setelah sholat terbeslit dalam pikiran kami untuk menengok waduk Gajah Mungkur yang terkenal itu. Kami singgah di bendungan serba guna Wonogiri, ternyata tempat ini cukup ramai, orang-orang datang sekedar untuk menghabiskan waktu sorenya. Ditempat ini pula si Aziz tiba-tiba merasakan sesuatu ditubuhnya *sensor.



Setelah dirasa cukup kami berkeliling sebentar ditepi waduk. Karena hari semakin sore, kamipun melanjutkan perjalanan pulang, kali ini Dimas memisahkan diri dari rombongan untuk langsung pulang ke rumahnya di Ponjong via Eromoko. Kami berlima melanjutkan perjalanan ke Jogja via Cawas-Klaten. Karena belum pernah melewati jalur Cawas, perjalanan pulang dirasa cukup lama, dan selepas maghrib-pun kami sudah berada di jalan Jogja-Solo di daerah Srowot. Pukul 19.00 kami sudah tiba di Kota Jogja tercinta tempat kami menimba ilmu, dan disini pula cerita itu berakhir dengan berbagai pengalaman dari hasil perjalanan kami touring di Pacitan-Ponorogo.

0 komentar:

Posting Komentar