Semakin jauh meninggalkan Desa Bomo, tempat dimana Goa Gong tinggal menyusuri kelokan demi kelokan menuju arah selatan. Ditengah perjalanan, kami singgah di sebuah masjid kecil untuk melaksanakan sholat Ashar. Kami singgah hanya beberapa saat, setelah sebentar beristirahat dan semua sudah melaksanakan kewajiban, kami melanjutkan perjalanan ke selatan. Jalanan ala pegunungan karst kami telusuri lagi, tampak dari sebuah sudut jalan kami melihat warna biru di kejauhan, dan itu adalah Samudera Hindia, berarti tidak lama lagi kami akan mencapai laut. Akhirnya kami tiba di pos retribusi pantai Klayar, jaraknya cukup jauh dari pantainya memang, namun itu adalah satu-satunya akses jalan menuju pantai. Sekitar pukul 16.40 kami melewati turunan terakhir dan tiba di bibir Pantai Klayar. Kami beruntung karena langit saat itu sangat cerah, disana sudah ada beberapa wisatawan lain yang berlibur sekedar untuk menghilangkan penat mereka. Kebanyakan wisatawan yang ada di Klayar memakai mobil dengan beberapa orang rombongan, tidak banyak orang yang mengendarai motor. Setelah menata sepeda motor di parkiran kami langsung menuju ke tengah pantai, dimana disana ada batu karang besar yang melindungi pantai dari terpaan ombak, hingga membelah pantai Klayar menjadi dua bagian. Untuk mencapai ke tempat itu kami harus menyeberangi 2 muara sungai kecil. Pantai di sisi timur ombaknya jauh lebih besar dari pantai yang ada di sebelah baratnya, kemungkinan karena kedalaman yang berbeda.
Perlu diketahui, bahwa Pantai Klayar adalah pantai yang unik, di Pantai ini terdapat tempat dimana ombak menyembur ke atas melalui celah kecil bebatuan. Tempat ini dinamakan "Seruling Samudera". Untuk sementara barang-barang kami, kami taruh didekat batu yang membelah pantai Klayar, kemudian kami ganti celana pendek. Namun air pasang semakin naik sehingga kami harus memindahkan barang-barang kami. Batu yang membelah pantai klayar ini juga unik, jika ombak yang datang cukup besar, maka air akan mampu naik ke atas batu kemudian turun dari sisi sebaliknya, batu tersebut jadi terlihat tersiram air. Tak lama kami tiba di Klayar, kami bertemu anak" geo 2008 lagi, ternyata tujuan mereka sama dengan kami yaitu menuju Klayar juga. Sebagai pemanasan kami bermain air di pantai sisi timur yang ombaknya besar, sedikit ngeri jika melihat ombak yang mengamuk seperti mencari mangsa, jadi kami tak berani berenang di tempat itu. Disudut pantai juga ada peringatan di larang berenang, maka kami hanya bermain air dan numpang narsis.
Karena penasaran dengan bentuk dari seruling samudera, maka kami memutuskan untuk melihat benda itu dari dekat. Kami sedikit ragu karena Seruling Samudera berada di batuan yang menjorok ke laut, dan hanya ada satu akses jalan menuju kesana. Awalnya beberapa dari kami ragu untuk pergi kesana, karena ombaknya yang besar dan takut akan terjadi pasang. Namun Topix, Hasan, dan aku memberanikan diri untuk mencapai ke tempat dimana seruling samudera berada. Dengan niat hati-hati kami melewati batuan yang terdapat genangan air, kami harus memanjat batuan untuk bisa ketempat itu. Setelah tekad bulat, akhirnya kami bisa mencapai atas bebatuan, dari kejauhan Seruling Samudera sudah tampak menyembur-nyemburkan airnya. Tempat itu sungguh unik dan "good looking". Ditempat itu tidak terdapat pasir, yang ada hanya batuan yang membentuk sebuah tebing pantai kecil yang langsung disambar ombak. Setelah kami merasa aman maka kami meyakinkan teman-teman kami yang belum naik untuk naik keatas dan melihat uniknya tempat ini. Ternyata tempat ini memiliki pandangan bebas ke arah barat menjadikan tempat ini sempurna untuk melihat sunset. Sambil menunggu sunset, kami bermain air di sekitar seruling ini, suara ombak dari dalam celah membuat ngeri memang, dan semburan airnya dapat membuat kami kaget. Langit cerah sore ini ditambah sudaut pandang yang tepat menjadikan suasana saat itu sempurna untuk melihat tenggelamnya sang surya. Cahaya oranye perlahan-lahan muncul dan makin banyak menghiasi langit yang tadinya berwarna biru. Pantulan sinar air laut membuat air laut tersebut berkilauan, siap untuk menampung sang surya ketempat peraduannya. Kami menikmati suasana ini dengan hikmat, diselingi candaan, sungguh suasana yang mempesona.
Saat sang surya makin rendah, kami turun meninggalkan seruling ini, dan membiarkan ia menari-nari bersama ombak ditengah gelapnya malam. Kami tak akan mengambil resiko jika turun terlalu malam. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat sang surya tenggelam dari bibir pantai barat. Kami menjadi saksi hari itu, indahnya matahari pergi beserta siangnya dan menyambut mengiringi malam. Sesuai rencana awal kami, kami akan bermalam di Klayar. Beberapa meter dari bibir pantai terdapat kios yang sudah ditinggal pedagangnya pulang, kios ini lebih mirip seperti pendopo, akhirnya kami memutuskan untuk melewati malam ditempat ini. Ternyata kami tidak akan sendiri malam ini, karena ada beberapa wisatawan yang menginap dengan menggunakan tenda dome. Karena kami tidak membawanya, maka kami memanfaatkan fasilitas yang ada. Setelah bersih-bersih, ibadah, dan makan malam, semua berkumpul di kios ini. Sebongkok kartu remi akan menemani kami malam ini. Permainan awal adalah permainan poker, awalnya permainan ini cukup menghibur, namun lama-lama menjadi bosan juga. Akhirnya Dimas memiliki ide cemerlang untuk melakukan permainan lain, sebut saja permainan ini "markisa". Dalam permainan ini nama kita diganti sesuai tema permainan, dan bila ada pemain memiliki angka kartu sama, maka mereka harus saling sebut, siapa yang sebut nama duluan, dia yang menag. Permainan cukup memeras kemampuan daya ingat, malam yang dingin jadi terasa hangat bahkan si Dian sampai berkeringat bermain permainan ini. Malam semakin larut dan permainan semakin asyik saja, namun ternyata ada hewan yang siap mengintai kami, dan dia adalah nyamuk Klayar. Nyamuk ini tidak seperti nyamuk yang ku kenal seperti biasa. Nyamuk disana lebih ganas dan amampu menembus kulit, padahal aku sudah memakai jaket tebal. Kalau sudah menggigit rasanya sangat gatal, sampai" Aziz bilang " Nek lemute sak munyuk-munyuk, tak kamplengi siji-siji og", kami yang mendengar suara Aziz itu langsung tertawa geli. Malam berlalu ditepi pantai klayar ditemani nyamuk-nyamuk ganas, entah mungkin mereka tidak mau menerima kedatangan kami. Malam semakin larut, kami merapatkan pakaian agar nyamuk-nyamuk tidak bisa mencuri darah kami, namun jarum di mulut nyamuk dapat menembus jaket yang kami pakai. Dengan ditemani cahaya senter dan nyamuk-nyamuk ganas kami baringkan tubuh yang lelah ini di dalam kios yang tak berpenghuni. Sayup-sayup suara ayam berkokok, suasana makin terang, setelah ku lihat jam di hp-ku ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. Beberapa sudah bangun, namun ada juga yang masih terlelap dalam peraduan karena tadi malam tak dapat tidur dengan nyenyak. Rencana pagi ini kami akan melihat sunrise dari puncak bukit disebelah barat pantai. Kami bersepuluh naik ke bukit yang tidak terlalu tinggi, namun rencana untuk melihat sunrise gagal karena tertutup oleh bukit yang lebih tinggi. Dari bukit dimana kami berada, bukit tersebut langsung terhubung dengan laut yang dipisahkan oleh tebing, dari atas bukit kami menikmati suasana pagi khas Pantai Klayar. Diatas bukit kami memasak mie instan seadanya hanya untuk sekedar sarapan, walaupun tidak membuat kenyang, namun cukup mengganjal diperut.
Hari ini kami masih bingung akan kemana setelah Klayar, dan akhirnya kami sepakat untuk melihat Kota Pacitan yang terletak di Teluk Pacitan itu. Sekitar pukul 07.30 kami turun dari bukit dan turun menuju warung untuk mengisi kembali perut yang sudah diganjal. Sekitar pukul 08.15 kami berangkat dari Klayar menuju Pacitan. Karena tak tahu dengan pasti jaringan jalan di Pacitan, perjalanan menuju Kota Pacitan kami mengambil jalan memutar sehingga memakan waktu lebih lama. Sekitar 1 jam kami menuruni turunan yang cukup terjal untuk kelas jalan raya. Ternyata jalan menuju pacitan memang harus melewati turunan terjal, sedikit demi sedikit, dari kejauhan terlihat teluk yang cukup besar, dan nampaknya itu adalah Teluk Pacitan. Tak lama kami tiba di Kota Pacitan, kota ini tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Kota ini tidak terlalu padat penduduk, bila dibandingkan kota kelahiranku, Kota Pacitan lebih sepi. Kota ini dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi dan dataran yanya terdapat di sekitar teluk. Tujuan pertama kami di kota ini adalah SPBU, tujuan dari kami mencari SPBU tak lain dan tak bukan adalah menumpang mandi. Akhirnya kami menemukan SPBU di jalan Pacitan-Ponorogo.


2 komentar:
mantap banget oommm. . .
iihhhhh.....
Posting Komentar