Tugas...tugas...tugas..
Tugas kuliah yang bertubi-tubi membuat otak sebagian anak Pendidikan Geografi angkatan 2009 jenuh. Kejenuhan yang diderita otak ini harus segera dijernihkan agar berfungsi dengan baik. Saat ini adalah penghujung waktu semester 5, wajar saja jika tugas terus-terusan menghampiri, dan akhirnya sebentar lagi minggu tenang tiba. Saat itu sekelompok makhluk geo R'09 merencanakan sesuatu untuk kembali menjernihkan otak yang telah jenuh, yap..refreshing, kami akan melakukan refreshing saat minggu tenang nanti, karena kami benar-benar ingin memanfaatkan minggu tenang yang telah dijatahkan kepada kami. Tempat yang akan menjadi target penjernihan otak kami jatuh ke Klayar, sebuah pantai yang termasuk dalam wilayah Pacitan yang cukup dikenal diantara beberapa pelancong. Hari Jum'at adalah hari terakhir kuliah di semester ini, dan tak ingin menunggu lama, keesokan harinya kami akan langsung menuju lokasi yang telah menjadi target operasi kami.
Sabtu, 24 Desember 2011
Sekitar pukul 05.30 alarm sudah berdering masuk kedalam sela-sela mimpiku, hoamm..rasanya berat mata ini untuk diajak menerima sinar. Dengan malas aku mulai memgumpulkan kesadaran, aku memang sengaja bangun pagi karena hari ini adalah hari dimana sebuah perjalanan penjernihan otak itu dimulai. Sudah menjadi kesepakatan kalau kami akan berangkat pukul 07.00 dari Jogja, namun apa daya sebuah kejadian unpredictable terjadi. Sedikit molor, pukul 07.30 aku, Topik, Ninda, dan Hasan sudah berkumpul di depan Lemlit UNY, tempat yang pas memang untuk berkumpul karena halamannya yang luas. Saat itu anggota pasukan kurang satu personil, dan siapakah dia gerangan?..dan yap..dia adalah Aziz, sms dan telefon sudah dilakukan agar handphonennya berdering, namun tetap tiada jawaban.
Tina dan Dimas yang menunggu ditempat lain akhirnya bilang untuk berangkat dulu, dan akan menunggu kami di rumah Tofan, karena Dimas ada keperluan sebentar. Tofan dan Dian memang sudah berada di Ponjong sejak Jum'at malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 namun belum ada tanda-tanda jawaban dari Aziz, kami pun mulai cemas, tebakan terburuk kami adalah dia belum bangun. Akhirnya kami putuskan untuk menjemput Aziz di rumahnya di Sewon, sekitar 20 menit perjalanan dari UNY. Aku dan Hasan yang bertugas menjemput Aziz, sedangkan Topik dan Ninda menunggu di tempat Hermawan yang sudah menunggu kami di kontrakannya. Kamipun beranjak ke tempat Aziz, sesampainya disana kami bertemu dengan Pak Lik (baca: om)-nya Aziz, beliau sedang beres-beres dihalaman, kemudian kami bertanya tentang keberadaan Aziz kepada om-nya. Beliau langsung masuk rumah dan masuk ke kamarnya Aziz, dan disinilah insiden tersebut berlangsung, dari dalam kamar Aziz, terdengar suara "Ziz..ziz tangi, kae lho ono kancane" *kluthik, tubuh kami mendadak lemas, ternyata benar dugaan kalau Aziz belum bangun. Kami dipersilahkan masuk rumah, dan Aziz keluar dengan muka kusut seperti belum disetrika "sek yo, aku tak adus disik, hhehe" "yo ziz, gpl" kami menjawabnya. Setelah sadar ternyata sudah ada 20 miscall dan beberapa pesan masuk yang tidak disadari olehnya, ckckck. Pukul 08.30 lebih kami bertiga langsung meluncur ke Jogja, sebelum menuju ke kontrakan Hermawan, sarapan bubur depan FT UNY dulu untuk tenaga perjalanan nanti. Kami tiba dikontrakan Hermawan sekitar pukul 09.30, pukul 09.45 kami berangkat dari Jogja dengan formasi aku-Hermawan, Aziz-Ninda, dan Topik-Hasan. Sekitar pukul 11.00 kami tiba di rumah Tofan, disana pasukan dari Jogja yang baru saja tiba istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Disini semua yang akan ikut petualangan kami sudah kumpul semuanya. Ba'da Dzuhur, sekitar pukul 12.10 kami berangkat dari rumah Tofan, tujuan pertama kami adalah Museum Karst Indonesia, yang letaknya di Pracimantoro, termasuk dalam wilayah Kabupaten Wonogiri. Sebelum melakukan perjalanan kami belanja logistik dulu di Ponjong, dan membeli *something 1 set untuk aku, Aziz, dan Hermawan. Perjalanan ke Museum Karst menelusuri jalan yang tek terlalu lebar namun cukup mulus, jalan tersebut menembus disela-sela perbukitan karst Pegunungan Sewu, alhasil jalannya berkelok-kelok mengikuti kontur bukit.
Sekitar pukul 12.50 kami sudah tiba di museum karst. Gerbang besar yang berdiri kokoh dan jalan yang lebar menuntun kami masuk ke area museum, sebelum mencapai parkir kami dicegat untuk dimintai retribusi, kami dikenai Rp5.000 untuk retribusi dan parkir setiap motornya. Sebelum parkir museum, kami harus melewati turunan yang cukup terjal, dari turunan ini gedung museum karst sudah terlihat jelas, berbentuk seperti piramid mirip Museum Gunung Merapi di Sleman, mungkin arsiteknya sama pikirku. Pintu masuk gedung, berupa pintu kaca besar, disitu ada tulisan Kementrian ESDM, artinya museum ini dibawah pengelolaan Kementrian ESDM (Energi dan Sumbe Daya Mineral). Seperti bentuk luarnya yang megah, bagian dalam museum ini juga terkesan mewah, ditata sedemikian rupa sehingga sangat enak untuk dinikmati sekaligus menyedot ilmu yang ada di museum ini, petugas museum juga ramah-ramah. Banyak sekali ilmu yang dapat kita peroleh terutama tentang karst beserta anatomi dan genesisnya, aku cukup terkesan, maklum baru pertama ini masuk museum karst.
Kami tak bisa berlama-lama dalam museum karena waktu sudah semakin menjelang sore padahal perjalanan masih panjang. sekitar pukul 13.30 kami meninggalkan museum untuk melanjutkan perjalanan, dari sini terjadi perubahan formasi menjadi aku-Tofan dan Dian-Hermawan. Jalanan lintas selatan Wonogiri kami telusuri, masih berkelok-kelok namun jalanan sudah mulai rusak, tanjakan-turunan-kelokan kami lewati sampai akhirnya kami melewati gapura yang tidak terlalu besar, gapura itu bertuliskan ¨Selamat datang di tanah kelahiran SBY¨ *toeng, yap kami sudah masuk Kabupaten Pacitan sekarang. Tidak lama setelah melewati gapura, banyak tulisan yang tertempel di pohon dikanan kiri jalan, inti dari tulisan tersebut adalah dilarang berak sembarangan, hhmm..apa tempat ini sering dijadikan tempat pup ya,hhehe. Sebelum ke Klayar, kami menyempatkan diri mampir ke Goa Gong yang tersohor itu. Pukul 15.10 kami sudah tiba di Goa Gong, saat memberi karcis, tak disangka kami bertemu dengan aanak" geo angkatan 2008, mereka juga sedang berlibur sepertinya, kami ngobrol sebentar sebelum naik menuju mulut goa. Sebelum masuk goa, istirahat dulu di pendopo kecil tidak jauh dari mulut goa merupakan keputusan yang bijaksana, perjalanan yang cukup jauh dan dibawah matahari terik cukup menguras tenaga.
Setelah dirasa cukup beristirahat kami melanjutkan masuk ke mulut goa, disini kami ditawari senter dengan kedok di dalam keadaannya gelap namun kami tidak terkecoh dengan kedok itu. Kalau dilihat dari luar, goa memang terlihat gelap namun setelah beberapa meter masuk kedalam goa, terdapat banyak lampu yang menerangi perjalanan setiap pengunjung. Mulut goa gong memang sempit, namun setelah masuk beberapa meter terdapat ruangan yang sangat besar, ruangan ini adalah goa karst, dimana pembentukannya sangat dipengaruhi oleh air sebagai pelarut. Pegunungan karst memang unik, salah satu fenomenanya adalah goa karst seperti di goa gong ini. Stalaktit yang terbentuk seperti tirai yang berlekuk-lekuk anggun sekali, perlu diketahui bahwa pembentukan dalam goa ini berlangsung selama ribuan tahun. Stalakmit menyambut stalaktit yang ada di atasnya sungguh indah, kadang ada yang sudah menyatu sehingga membentuk pilar-pilar putih mengkilap. Goa ini merupakan salah satu wisata andalan Kabupaten Pacitan, infrastruktur dalam goa pun sudah memadai. Tangga lengkap dengan besi untuk berpegangan menyusur mengelilingi goa, sudah siap untuk memberi jalan pada setiap pengunjung.
Kami tak bisa berlama-lama menikmati keindahan goa, karena kami tak akan meninggalkan sunset di Klayar nanti. Sekitar pukukl 16.00 kami sudah meninggalkan Goa Gong menuju Pantai Klayar, menyusuri jalan berkelok-kelok lintas selatan Pacitan.

3 komentar:
wah, aku isin durung tau ndono -__-" kasih info jalan yo mas besok :D
aq seneng poto2ne wi :D
Kiki : Lha isin kenopo ki, asyik lhoo.. :D , aq yo wes rodo lali dalane, pake google map wae,wkwk
Febri : Suk hunting foto ng kene, sing part II mgko foto2ne luwih keren :D
Posting Komentar