Rabu, 22 Februari 2012

Backpacking to Bromo : Pengalaman tak terlupakan di tengah badai pasir (part V)

Minggu, 29 Januari 2012

Pagi ini angin masih bertiup kencang di Cemoro Lawang, sehingga kami harus tidur ditemani alunan suara kaca jendela yang bergetar sepanjang malam hingga pagi hari. Suasana di luar sudah terang, namun badan ini sangat berat untuk beranjak dari tempat tidur, udara dingin pagi hari membuat aku sulit untuk melepaskan selimut dari badanku. Kulihat Topix sudah melaksanakan subuh, hal itu membuatku iri, akhirnya ku ambil air wudhu dan melakukan apa yang dilakukannya barusan. Hari ini merupakan hari ketiga kami di Bromo, itu artinya hari ini kami akan meninggalkan Cemoro Lawang, udara dingin Bromo, dan hari ini juga kami harus berpisah dengan mbak Eka, mbak Ari, serta Hayeon.  Untuk hidangan sarapan pagi itu kami memilih mie goreng yang dimasak dengan nesting darurat untuk disantap, namun tetap terasa yummy dilidah kami. Sekarang waktunya packing, check semua barang agar tak ada yang tertinggal.
Pukul 08:00 kami berjalan-jalan untuk menikmati suasana terakhir Bromo sebelum meninggalkannya untuk kembali pada rutinitas kami di Jogja. Kami juga mencari info tentang kapan angkot dari Cemoro Lawang akan turun ke Kota Probolinggo. Dari info salah seorang supir elf, bahwa elf akan turun ke Probolinggo pukul 13:00, kalau begitu kami bisa santai dan menunggu di homestay. Tak lama kemudian supir elf memberi info kalau mobilnya akan turun ke Probolinggo sebentar lagi, mendengar info itu kami langsung menyiapkan barang-barang kami dan membawanya keluar, sebuah elf biru sudah menghampiri didepan homestay. Sebelum meninggalkan homestay kami bertujuh foto dulu di depan homestay yang sudah menjadi tempat peristirahatan kami selama dua malam di Bromo.


 Kami naik elf dan ternyata mobil tak langsung turun, namun menunggu beberapa penumpang dulu agar elf penuh selama beberapa menit. Pukul 09:42 akhirnya elf benar-benar meninggalkan Cemoro Lawang. Elf menuruni turunan yang cukup curam meninggalkan segala kenangan kami selama 3 hari di Cemoro Lawang dan kawan-kawannya. Elf melaju melewati kelokan-kelokan tajam dan turunan. Selama dalam elf aku hanya memandang keluar melihat view khas pegunungan yang dihiasi kabut yang tak begitu tebal. Perjalanan cukup lama membuatku mengantuk.
Pukul 10:52 kami sudah tiba di terminal Probolinggo, udara panas langsung menyergap tiap pori tubuh, sangat kontras dengan udara di Cemoro Lawang tadi. Tiba di Probolinggo berarti kami harus berpisah dengan mbak Ari dan mbak Eka, mereka berdua akan  meneruskan perjalanan liburan ke kota apel, Malang. Hayeon tetap bersama kami berempat karena ia akan meneruskan perjalanan ke Solo, kebetulan satu jalur dengan arah Jogja. Tepat di terminal kami berpisah dengan mbak Eka dan mbak Ari, namun aku yakin kenangan indah dan "gila" bersama kami tak akan pernah mereka lupakan. Di terminal kami ditawari beberapa bus untuk tujuan Surabaya, tetap pada prinsip kami, kami akan naik angkot termurah. Saat itu ada kru bus Akas menawari kami tarif Rp13.000 untuk sampai Surabaya dengan fasilitas AC. Kami langsung setuju dan naik ke bus tersebut, bus Akas merupakan bus asli Probolinggo dengan trayek Jember-Surabaya. Penumpang dalam bus tidak terlalu banyak, sehingga kami dapat memilih bangku kosong yang kami rasa nyaman. Bus ini lumayan nyaman dan tarif murah. Kami melewati jalur yang sama saat kami berangkat ke Probolinggo, jalur pantura kembali kami lewati. BUs yang nyaman membuatku mengantuk, perjalanan Probolinggo-Surabaya banyak kuhabiskan dengan aktivitas tidur. Pukul 13:45 kami sudah tiba di terminal Purabaya. Sebelum melanjutkan perjalanan kami sepakat untuk makan siang dulu di terminal ini. Warung bakso dan rawon entah apa namanya, akhirnya jadi tempat persinggahan kami. Pada saat kami semua selesai makan, Hayeon meminta agar dia yang bayar semua makan dan minumannya, kami agak sungkan, dengan sedikit basa-basi akhirnya kami menerima tawaran itu #seneng. Selesai makan Tofan akan ke toilet dulu, sementara kami menunggu di depan warung. Pada momen itu kami disambangi seorang gadis (baca: nenek) genit. Tampilannya rapi, pakaiannya juga bagus dengan sedikit make up diwajahnya, nenek itu meminta kami beberapa uang, yang nenek itu bilang untuk membeli obat pegal linu. Yang tidak kami suka adalah cara dia memaksa kami, lalu kami bilang pada nenek itu kalau kami masih sekolah. Setelah mendengar kalau kami masih sekolah, sang nenek kemudian memberikan wejangan-wejangannya kepada kami, namun perilaku nenek ini agak aneh, si Topix dan Aziz dicubit perutnya sedangkan aku yang paling parah karena dia mencubit pipiku *hadeh. Setelah agak lama berinteraksi dengan kami nenek itupun pergi. Tofan pun sudah selesai dari toilet, kamipun melanjutkan tujuan kami mencari bus ke Jogja. Awalnya kami berencana untuk menjajal adrenalin kami dengan menaiki bus SK, karena kami ingin cepat sampai juga. Sialnya kami mengalami kebingungan di dalam terminal, kami kemudian bertanya pada seseorang dan menggiring kami ke kerumunan bus menuju Jogja. Aku dan Aziz sudah menuju kearah bus SK namun teman yang lain sudah digiring orang tadi menuju bus Mandala, nama bus yang sangat asing ditelinga. Akhirnya kami menaiki bus tersebut dengan tarif Rp35.000 sampai Jogja. BUs itu ternyata masih menunggu penumpang dan "ngetem" di terminal hampir 2 jam *hoam. Saat penantian bus tersebut, banyak sekali pedagang asongan yang keluar masuk bus, salah seorang pedagang tertarik pada Hayeon mungkin karena bentuk fisik tubuhnya yang paling berbeda. Yang paling menarik adalah saat dia ditawari dagangan kemudian ia menjawab "mboten", kata-kata itu sontak membuat sang pedagang terbelalak. "Jare wong korea kok iso ngomong mboten" kata si pedagang. Hayeon tidak serta merta tahu kata "mboten" melainkan itu adalah ulah Topix yang mengajarinya untuk menolak setiap tawaran yang tidak ia inginkan dengan kata tersebut.
Sekitar pukul 16:00, sang supir baru menekan pedal gas agar bus bergerak maju dan akhirnya keluar dari hiruk pikuk terminal. Awalnya bus ini terasa nyaman saat berada diterminal tadi, tapi saat mulai bergerak ketidaknyamanan mulai terasa. Getar mesin  mulai mendera dengan keras, ketidaknyamanan ini tidak bertahan lama karena aku mulai beradaptasi dengan ketidaknyamanan itu. Bus tidak begitu berjalan cepat, namun setelah melewati Mojokerto bus melaju dengan kencang. Hari semakin gelap saat kami melewati Nganjuk. Kemudian hujan turun dengan derasnya saat bus memasuki Ngawi. Tiba-tiba terdengar suara "toilet..toilet" namun suara itu terdengar sayup-sayup karena mata masih mengantuk. Ternyata yang minta ke toilet adalah Hayeon, kemudian bus berhenti di toilet. Sangat jarang bus trayek mau berhenti gara-gara penumpangnya ingin ke toilet, namun karena penumpangnya orang korea, kali ini bus mau berhenti. Bus melewat perbatasan Jatim-Jateng, melewati Sragen, Karanganyar kemudian tiba di terminal Tirtonadi, Solo pukul 22:15. Tirtonadi merupakan titik dimana kami akan berpisah dengan orang korea ini. Kali ini ia mengandalkan fieldtrip yang jadi panduan perjalanannya serta ia akan bertemu seorang teman di Solo. Ia menyalami kami satu persatu sebelum ia turun. Tak lama Aziz menyusul keluar bus dan mencarikan Hayeon ojek, sungguh mulia hati Aziz *lebay. Beberapa menit kemudian bus keluar dari terminal Tirtonadi dan melanjutkan perjalanan ke Jogja. Sebentar lagi kami akan tiba di Jogja, ahh..kangen juga aku sama suasana kota gudeg ini. Perjalanan Solo-Jogja aku masih terbayang keberuntungan perjalanan kami ke Bromo, bertemu dengan mbak Eka, mbak Ari, dan berkenalan serta hidup sementara dengan orang korea. Interaksi paling lama dengan orang luar negeri yang pernah aku alami, pengalaman ini pasti akan sulit menghilang dari otak kepalaku. Pukul 11:30 kami sudah sampai di ringroad timur. Suasana jalan sudah familiar. Pukul 11:40 kami sudah kembali di terminal Giwangan, kami langsung menuju di parkiran dimana si biru dan si revo menanti kedatangan kami selama 3 hari. Motor dipanasi, melewati petugas parkir dan bilang kalau hari itu belum ganti hari *gak penting. Kami menyusuri jalanan kota yang cukup sepi, akhirnya si biru dan si revo berpisah, Aziz menginap di kos Tofan dan Topix menginap di kosku. Diperjalanan perut minta untuk diisi, akhirnya Aku dan Topix melabuhkan perut kami di warung burjo dekat kosku. Pukul 00:15 aku dan Topix sudah bersemayam dalam kos tercintaku. Sebelum tidur aku masih berpikir seberapa beruntungnya kami, sungguh perjalanan yang penuh dengan pengalaman, walaupun awalnya aku tak yakin perjalanan ini akan menyenangkan namun akhirnya perjalanan ini berakhir indah dalam kenangan :). Sekali lagi terima kasih atas karunia-MU..

0 komentar:

Posting Komentar