Senin, 06 Februari 2012

Backpacking to Bromo : Pengalaman tak terlupakan di tengah badai pasir (part III)

Jum´at, 27 Januari 2012

Setelah membicarakan tentang skenario dengan supir menuju Patalan, Aku dan Topix langsung menghampiri Tofan dan Aziz yang sedang menunggu di dekat elf tadi, kami menjelaskan skenario kepada mereka dan kami berempat langsung bergegas dari pangkalan elf berjalan kaki kearah pom bensin tempat dimana angkot tadi akan menghampiri. Belum sampai pom, supir angkot sudah menghampiri kami, alhasil sopir elf tadi tahu dan langsung menghampiri sopir angkot, entah takut atau tidak enak sopir angkot tadi lantas menyuruh kami untuk naik elf saja. Angkot itu kemudian pergi, sopir elf menyuruh kami untuk kembali ke tempat pangkalan elf namun kami bertekad untuk tidak kembali jika tarif elf tidak turun. Kami terus berjalan kaki dan sudah melewati pom bensin, tidak beberapa lama angkot yang tadi menghampiri kami, aku agak terheran ¨ngumpet dimana ini angkot kok tiba-tiba nongol¨ ternyata angkot ini ngumpet di pom bensin. Supir angkot itu tidak menyerah dan kembali menawari kami, tetapi supir ini terus berhati-hati siapa tahu supir elf tadi datang dengan terus melihat ke belakang. Benar saja, yang datang bukan supir elf tetapi kernetnya kemudian supir angkot menyuruh naik elf lagi..wadoww, gubrak banget ne supir. Ya sudah dari pada bingung mikirin mau naik angkot mana, kebetulan didekat tempat itu ada warung nasi, kebetulan banget kami berempat belum sarapan, akhirnya kami masuk ke warung nasi yang kecil kepunyaan ibu sebut saja namanya bunga,hhehe. Ibu pemilik warung itu menyambut kedatangan kami dengan ramah, dan memang ibu ini baik hati. Walaupun orang jawa timur asli tapi ibu ini begitu lembut, jadi bahasa jawa timuran yang terkesan kasar tiba-tiba hilang setelah ibu ini berbicara dengan logat jawa timuran tetapi lembut. Kami sedikit berbincang dengan ibu pemilik warung tentang angkot dan elf *malah curhat, juga tentang bagaimana keadaan di atas sana *Bromo. Ketika mau bayar, ibu ini memasang harga yang sama untuk tiap orang padahal lauk yang kami makan berbeda-beda, yaitu kami dikenai harga Rp7000. Kami pun bergegas dari warung nasi ibu baik hati itu, karena kami sudah dipaksa untuk kembali ke elf, dari pada terjadi apa-apa nantinya untuk kali ini kami mengalah dan bersedia untuk naik elf dengan harga Rp25000, hufte. Perjalanan dari warung nasi ke pangkalan elf kami terus dikawal oleh kernet elf itu, mungkin mereka takut jika kami akan melarikan diri. Ada kejadian lucu dimana saat kami belum sampai pangkalan, ada angkot yang menawari kami untuk naik tanpa menanyakan tujuan kami pergi, supir itu pakai acara memaksa juga agar kami naik, hadeh..aneh-aneh wae sopir angkot disini. Kami akhirnya mengalah dan menaikkan barang-barang kami diatas mobil. Kami berempat masuk angkot karena kernetnya bilang penumpangnya sudah banyak dan akan berangkat. Tofan, Aziz, Topix duduk di kursi paling belakang sedangkan aku didepannya.

Ternyata baru ada dua orang Cina dan satu penduduk lokal yang akan naik elf tersebut, padahal elf tersebut tidak akan berangkat sebelum semua kursi terisi, ngalamat tenan waktu itu. Tak lama kemudian ada rombongan tiga perempuan berkerudung memasuki elf, alhamdulillah nambah juga penumpangnya. Tiga perempuan ini adalah seorang ibu dengan kedua anaknya, ibu ini ramah sekali, ibu ini bercerita kalau beliau baru saja melancong dari pulau dewata, pulangnya mampir di Bromo. Keluarga yang suka berpetualang, karena mereka juga backpacker versi keluarga. Beruntung sekali punya keluarga yang kompak seperti ini. Kemudian ibu ini bercerita panjang lebar tentang keluarganya, dan ternyata eh ternyata ibu berasal dari habitat yang sama denganku, yakni sama-sama berasal dari kota tembakau, Temanggung. Aku sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan orang Temanggung dalam petualanganku ke Bromo.

Terlalu lama dalam angkot membuatku pusing, aku keluar sejenak untuk membeli minuman dan menenangkan kepalaku yang agak pening, setelah diluar beberapa lama, aku masuk kedalam elf lagi, di sana Aziz dan Tofan sudah tertidur pulas, dan Topix sedang mendengarkan mp3 dari hpnya. Beberapa saat aku ikut tertidur menyusul Aziz dan Tofan. Hari makin siang dan suhu di dalam mobil semakin panas, sepertinya Topix sudah mulai emosi dan tingkahnya mulai aneh. Dia menirukan gaya jawa timuran dan memaksa supir untuk segera berangkat. Penumpang makin lama makin bertambah, kemudian ada dua orang perempuan berkerudung memakai kaos putih, ternyata backpacker juga yang datang dari Jakarta dan seorang perempuan berkacamata dengan mata sangat sipit ternyata ia dari Korea yang juga seorang backpacker seorang diri. Di dalam mobil kami tak banyak bicara dengan mereka. Akhirnya mobil penuh juga dengan penumpang setelah menunggu sekian lama dari jam 08:00 , elf menggerakkan bannya sekitar jam 11 lebih.
Dalam perjalanan aku bersebelahan dengan seorang ibu memakai jilbab yang suka bercerita, saking banyaknya ibu itu tak henti-hentinya bercerita tentang pengalamannya di Bromo. Kebetulan ibu tersebut membawa kamera digital dan memperlihatkan foto-foto narsisnya di Bromo. Setelah melihat gambar di camdignya, alamaakk..ternyata ibu ini gaul gilak, rambutnya panjang di cat warna merah dengan gaya yang pol ibu itu foto di atas motor ninja yang parkir, dan narsis diantara bunga-bunga. Aku cuma senyum menanggapi cerita ibu itu, ternyata beliau adalah guru di SMPN 9 Probolinggo, benar-benar guru yang istimewa. Ibu guru itu baik juga, ia memberi tahu kami dimana posisi penginapan murah di Cemoro Lawang. Kami tiba di Sukapura, tempat pemberhentian terakhir bus pariwisata yang akan ke Bromo, ibu guru gaul tadi juga turun di sini. Perjalanan berlanjut terus menuju Cemoro Lawang, jalan menanjak dan berbelok-belok terus ditelusuri elf tua yang kami tumpangi. Kami juga melewati jalan yang ada di igir gunung, jalan itu tidak terlalu lebar dengan kanan dan kiri jalan terdapat jurang yang dalam, perasaan ngeri sempat terlintas saat mobil melewati jalan tersebut. Sebelum memasuki Cemoro Lawang ada tanjakan panjang dan lurus, menguji setiap kendaraan yang akan memasuki Cemoro Lawang, tapi itu bukan masalah bagi elf yang kami tumpangi karena memang mobil ini sudah biasa pulang pergi Cemoro Lawang-Probolinggo.
Akhirnya kami sudah tiba di Cemoro Lawang, daerahnya berupa perkampungan cukup ramai dengan bangunan-bangunan permanen dan beberapa hotel. Elf yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah homestay, mungkin kenalan supir elf tersebut. Homestay tersebut mematok harga Rp125000/kamar, harga itu terdengar terlalu tinggi di telinga kami, mungkin kami bisa mencari penginapan lain. Ternyata mbak-mbak dari Jakarta dan Korea tersebut juga tidak cocok dengan harga itu, akhirnya kami sepakat untuk mencari penginapan lain. Elf yang kami tumpangi berhenti cukup lama di depan home stay tadi, suasana elf yang tadinya hening mulai hangat dengan obrolan diantara para penumpang. Kami berempat dan mbak-mbak dari Jakarta mulai saling sapa dan bertanya asal masing-masing. Salah satu mbak tersebut memancing kami untuk berbicara dengan orang Korea tersebut, sejak itulah kemampuan bahasa inggris kami diuji. Kami mulai bertanya ke orang Korea tersebut dengan bahasa inggris sederhana, seperti ¨where are you from?¨ dan bahasa inggris tingkat beginner pun kami keluarkan. Setelah beberapa menit, elf yang membawa kami menurunkan kami beberapa ratus meter dari homestay pertama tadi. Barang-barang kami yang berada di atas elf diturunkan satu persatu secara hati-hati oleh kernet elf. Kernet elf ini bertubuh kecil, mungkin usianya juga masih muda, sekitar seumuran anak SMA. Mbak-mbak Jakarta dan Korea terlebih dahulu naik mendekati Hotel Cemoro Indah yang berada tepat di tepi tebing. Kami memanggil mereka agar menunggu kami untuk mencari penginapan bareng, karena memang itu sudah jadi kesepakatan kami saat berada dalam elf sewaktu di depan homestay tadi. Kami segera menyusul mbak-mbak yang sudah ada di atas tadi. Tepat di pinggir tebing sebelah barat hotel Cemoro Indah terdapat formasi pagar yang menjaga tiap manusia agar tidak terjatuh ke bawah tebing. Setelah mencapai pagar itu, subhanallah..kami benar-benar sudah sampai di Bromo seperti yang ada di tv-tv. Dalam jangkauan mata terlihat Gunung Batok, Kawah Bromo, lengkap dengan padang pasirnya, sungguh pemandangan yang menakjubkan, kami sudah benar-benar tiba di Bromo!
Sekarang sudah ada tujuh backpacker yang sedang menimati keindahan kompleks Gunung Bromo yang seakan-akan menyambut kedatangan kami. Si Topix langsung mengeluarkan camdignya dan mengambil gambar yang ada di depannya. Mbak-mbak Jakarta dan Korea juga tak mau ketinggalan mengambil gambar. Beberapa saat kemudian kami bertujuh foto bersama dengan latar belakang komplek Gunung Bromo.


Padahal saat itu kami belum tahu nama masing-masing tapi sepertinya takdir yang telah mempertemukan kami. Setelah foto bersama kami mulai saling berkenalan, mbak yang suka cerita dan asyik orangnya namanya Mbak Eka, sedangkan yang tubuhnya tinggi dan wajah serius Mbak Ari namanya. Kami dengan mudah menghafal mereka, tapi meraka agak susah menghafal kami berempat *hadeh. Awalnya aku memanggil mbak-mbak itu dengan panggilan bu, tapi setelah tahu mereka berdua belum menikah, akhirnya aku memanggil mereka mbak saja biar lebih akrab. Wanita yang sangat sipit dan berasal dari Korea itu namanya Hayeon, agak susah di ucapkan memang tapi itu setimpal karena dia sangat susah mengeja nama kami dengan benar, mungkin desain lidahnya memang berbeda. Kami berempat tak pernah menyangka kalau pertemuan itu akan menjadi pengalaman seru segerombolan backpacker yang berpetualang di Bromo dengan biaya minim. Kami bertujuh kemudian turun lagi untuk mencari penginapan yang cocok, baik cocok tempatnya dan cocok harganya. Awalnya kami bertemu dengan bapak-bapak dengan perawakan kecil menawarkan penginapan yang tidak jauh dengan Hotel Cemoro Indah. Penginapan itu malah mirip kos-kosan dengan kamar yang langsung berhubungan dengan teras, dengan dua tempat tidur dan berdinding bambu. Bapak ini mematok harga Rp 100000/kamar. Kami hampir setuju dengan penawaran bapak tadi, ternyata Tofan juga punya tawaran lain, yaitu sebuah homestay murah dengan dua kamar, terletak tidak jauh juga dengan Hotel Cemoro Indah, hanya saja tempatnya lebih di bawah. Kalau misal nyewa homestay kami bertujuh bisa tinggal dalam satu rumah, setelah berdiskusi dengan Mbak Ari, Mbak Eka, dan Hayeon ternyata mereka tidak keberatan untuk tinggal bersama kami. Tofan dan Aziz survei ketempat yang ditawarkan tadi, ternyata tempat itu lebih nyaman dari penginapan yang ditawarkan bapak-bapak tadi, sebuah rumah yang tidak terlalu besar dengan dua kamar, empat ranjang, satu kamar mandi, dan ada tv juga. Mas-mas penyewa rumah mematok harga Rp200000, dan deal! kami setuju. Barang-barang kami masukkan kedalam rumah imut itu. Yang cewek-cewek kamarnya di dalam, sedagkan yang cowok-cowok tidur di luar. Tak jadi masalah bagi kami berempat, mas-mas penyewa kamar menawarkan akan berapa hari menyewa rumah tersebut. Mbak Eka, Mbak Ari, dan Hayeon sudah sepakat untuk menyewa dua hari, pada saat itu kami berempat dilanda galau karena kami berempat belum ada gambaran akan berapa hari tinggal di Bromo. Setelah lama berdiskusi secara alot akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyewa rumah tersebut dua hari. Uangpun dikumpulkan dan diserahkan kepada pemilik rumah. Saat itu jam masih sekitar pukul 14:00 tapi cuaca sudah dingin, mungkin karena adaptasi karena kami baru dari daerah panas.

Kami juga sempat mengobrol dengan penduduk setempat yang sepertinya penyedia jasa bagi para turis yang datang ke Bromo. Orang itu menawarkan hartop untuk keliling Bromo dengan 4 tujuan dengan mematok harga Rp600000, hhmm bisa gila. Karena memang tujuan awal kami adalah biaya seminimal mungkin maka kami sudah tidak bernafsu untuk naik hartop jika harga selangit seperti itu. Kami pun hanya mencari info dan kemudian masuk kedalam rumah lagi. Beberapa saat Mbak Eka dan Mbak Ari sudah memakai kostum untuk keluar rumah, saat itu mereka memang ingin jalan-jalan melihat keadaan di luar. Tak lama kemudian Hayeon sudah siap dengan kostum luar ruangan dan bergegas untuk jalan-jalan. Sedangkan kami berempat memilih untuk beristirahat dulu dalam rumah dan menjaga barang-barang karena kunci pintu tidak ditemukan. Cuaca cukup dingin sehingga kami berinisiatif untuk membuat kopi, peralatan nesting dari tas carrier Tofan pun di keluarkan. Perlu diingat bahwa peralatan nesting ini mempunyai jasa besar dalam program penghematan kami di Bromo mengingat harga makanan disini yang fantastis. Air belum mendidih dan Hayeon sudah pulang, ¨kok cepet banget ne orang pulangnya¨. ¨rainy..rainy..¨ kata dia, ternyata diluar memang gerimis, dan dia tidak jadi pergi jalan-jalan. Dia akhirnya ikut bergabung bersama kami untuk membuat kopi, dalam moment ini kami mencoba mengenal lebih dekat tentang orang Korea ini. Ternyata dia bekerja di salah satu NGO (Non Goverment Organization) di Korea. Wanita ini sudah dewasa juga ternyata. Kami mengobrol kesana kemari dengan kemampuan bahasa inggris kami yang sangat standar, dalam mengobrol bahasa kami sering belepotan maka terjadilah apa yang disebut miss komunikasi. Kami menanyakan ini tapi dia menjawab itu, uji bahasa benar kalau seperti ini. Tapi orang Korea ini ramah dan asyik, dia sangat murah senyum, sehingga kami tak segan dalam bicara walaupun kadang dia harus berpikir keras untuk menangkap maksud pembicaraan kami. Air sudah mendidih dan saatnya membuat kopi, kami membuat dua gelas kopi untuk berlima, satu gelas untuk Hayeon dan satu gelas untuk kami berempat, ckckck. Sepertinya orang Korea ini juga suka dengan kopi Indonesia.
Cuaca diluar sudah tidak gerimis lagi dan kami ingin melihat keadaan sekitar juga, kunci akhirnya ditemukan, jadi kami bisa meninggalkan barang-barang dengan aman. Kostum sudah siap dan kami pun berangkat untuk jalan-jalan, Hayeon juga ingin bergabung dengan kami berempat, it's OK. Kami berjalan keatas dan memilih jalan sebelah kiri dan tidak melewati Hotel Cemoro Indah tadi, ditengah jalan kami bertemu mbak Eka dan Mbak Ari yang membawa kresek berisi sukun goreng, kamipun ditawari, hhmm rejeki nomplok. Sukun goreng ala Bromo digoreng dengan tepung jadi bentuk fisiknya seperti pisang goreng, tapi yummii ditengah cuaca dingi seperti ini. Hayeon bingung dengan apa yang dia makan, lalu kami sedikit dengan bahasa inggris yang belepotan. Sepertinya dia sudah sedikit mengerti.
Pemandangan komplek Bromo dari sudut yang berbeda terlihat, dan pemadangan masih sangat bagus dan memanjakan mata, agak lama kami memandang dan masih meyakinkan diri bahwa aku sudah di Bromo. Beberapa lama kemudian kami terpikat untuk menyusuri jalan menurun menuju padang pasir. Kamipun menyusuri jalanan aspal tak terlalu lebar, tempat hartop, ojek dan kuda Bromo berlalu lalang. Penyusuran jalan kami lakukan sambil foto-foto dan saling mengobrol. Rasa penasaran kami membawa kami tiba di padang pasir. Suasana di padang pasir saat itu sangat sepi dan angin cukup kencang, sehingga debu-debu pasir banyak beterbangan. Dari kejauhan tampak pura yang terkenal untuk upacara Kasada. Kebanyakan orang Tengger beragama Hindu dan di Cemoro Lawang jarang dijumpai masjid, bahkan selama aku disana sama sekali tidak terdengar adzan. Kami tidak terlalu lama berada di padang pasir karena sudah sore sekitar pukul 16:00 dan keadaan kami masih perlu banyak istirahat.  Di padang pasir kami hanya mengambil sedikit gambar dan bertanya kepada salah satu penduduk lokal tentang jalur untuk melihat sunrise di Penanjakan.






Kamipun mendapat informasi yang akurat dari oarang tersebut. Tak lama kemudian kami kembali ke atas dan kembali ke homestay. Sampai di homestay perut terasa ingin diisi karena memang terakhir makan nasi ya sarapan di Probolinggo tadi. Kamipun memasak mie dengan peralatan nesting Tofan. Memasak 4 bungkus mie untuk kami dan du mbak-mbak dari Jakarta. Kami hanya makan mie bertiga karena Aziz sudah terlelap, cepat sekali dia tidur. Setelah makan kami beristirahat di tempat tidur dan tanpa terasa aku tertidur padahal jam masih menunjuk jam 18 kurang. Dan memang suasana saat itu sepi karena semuanya tertidur mungkin karena kecapekan. Sekitar jam 19:00 aku terbangun dan kulihat Aziz juga sudah terbangun dia sedang akan membuat mie, aku hanya ikut nimbrung dan membuat mie juga. Malam semakin larut aku sekarang pindah tempat tidur dari yang tadinya sama Topix sekarang pindah sama Aziz. Aku tak ingin mengambil resiko untuk tidur terlalu larut karena keesokan harinya kami akan berangkat pagi-pagi buta jam 03:00 pagi untuk melakukan perjalanan ke Penanjakan melihat sunrise Bromo yang eksotis itu. Ditengah tidur Topix pindah tempat tidurku, akhirnya kami tidur bertiga dalam satu tempat tidur. Kami tidak melakukan apapun lho, bener deh, cuma tidur. Dan akhir cerita di Bromo hari itu pun berakhir dengan mimpi-mimpi ditengah dinginnya malam di Bromo.

2 komentar:

Ahmad Ulin Niam mengatakan...

Seru whi.. ;))

Wahyu Whi mengatakan...

tapi susunan katanya masih acak-acakan lin,hhehe :-/

Posting Komentar