Bus SK terus melaju kearah timur, semakin jauh meninggalkan Kota Solo yang terkenal dengan kue serabinya itu. Aku masih terjaga hingga bus melewati Sragen dan akhirnya bus melewati 2 buah gapura besar layaknya seorang penjaga perbatasan. Gapura yang pertama bertuliskan ¨Selamat Jalan Propinsi Jawa Tengah¨, kedua gapura tersebut dipisahkan oleh sebuah jembatan, dari jembatan tampak jelas tulisan yang ada di gapura kedua ¨Selamat Datang di Propinsi Jawa Timur¨, ya..kami sudah sampai di propinsi dimana Gunung Bromo bersemayam, akan tetapi perjalanan kami masih panjang dan masih lama berada dalam tubuh bus SK. Waktu telah berlalu beberapa menit dari gerbang perbatasan, makin lama mata ini terpejam tak sadarkan diri.
Jum'at, 27 Januari 2012
Tiba-tiba bus berbelok tajam namun tetap dengan kecepatan tinggi, alhasil penumpang seperti terlontar kesamping dan akupun terbangun, aku lihat Aziz yang duduk bersebelahan denganku memegang kursi didepannya erat-erat agar tidak terjatuh. Aku lihat keluar jendela, aku lihat pemandangan kosong tapi cukup luas, ternyata kami sudah tiba di Terminal Madiun. Suasana di terminal saat itu sangat sepi, mungkin karena memang sudah larut malam, aku lihat jam dari hp dan saat itu angka yang tertera pukul 01:15. Bus tidak berhenti lama, setelah melewati lorong dan menaikkan penumpang, bus langsung melanjutkan perjalanan. Suasana di luar bus sangat gelap dan sepi, hanya ada beberapa lampu-lampu jalan yang menerangi para supir malam. Sepertinya kami sudah memasuki daerah Nganjuk, pikiranku langsung melayang ke lagu ¨Alun-Alun Nganjuk¨ yang sempat booming beberapa waktu lalu. Tak lama kemudian aku tak sadarkan diri. Lagi-lagi aku dibangunkan dengan cara yang sama seperti di Madiun tadi, ahh..gak berperi penumpangan banget sih ini supir. Aku lihat keluar lagi, disana ada running text bertuliskan ¨Selamat Datang di Kota Mojokerto 03:30¨, kami sudah sampai di Terminal Mojokerto, suasana terminal sudah mulai menggeliat dengan berbagai aktivitasnya saat itu. Sampai di Mojokerto berarti tidak lama lagi kami akan sampai di Surabaya, benar saja sekitar setengah jam kemudian kami sudah sampai di Terminal Purabaya-Surabaya, walaupun letaknya di Sidoarjo tapi terminal ini sudah diklaim Surabaya.
Semua penumpang yang ada di dalam bus turun termasuk kami berempat, hingga hanya kru bus SK yang ada dalam bus. Baru beberapa langkah meninggalkan bus kami ditanya oleh salah satu kru bus SK ¨Mau kemana mas?¨, ¨Probolinggo pak¨ jawab kami. ¨Yo wis melu iki maneh wae¨kata orang tersebut. Kami agak bingung karena bus ini memiliki tujuan akhir di Surabaya. ¨Ayo cepet¨ tanpa pikir panjang kami masuk lagi ke dalam bus SK, ¨ah..mungkin bus ini punya garasi di Probolinggo, jadi kami bisa bareng sekalian¨pikirku. Ternyata pikiran ngawurku meleset, sampai di pintu keluar terminal kami di oper ke bus yang menuju Probolinggo. Bus itu bernama Ladju, sebuah bus ekonomi dengan trayek Surabaya-Jember. Sedikit negosiasi, akhirnya kami sepakat untuk naik bus tersebut sampai ke Probolinggo dengan tarif Rp12000. Aku, Aziz, Tofan duduk di kursi paling depan, sedangkan Topix duduk dibelakang Aziz. Bus masih ¨ngetem¨ menunggu penumpang, aku lihat hp dan waktu masih menunjukkan pukul 04:15, sambil masih membayangkan pengalaman naik SK sejauh itu, antara ragu, was-was, tetapi seru juga. Aku dan Aziz sedikit berbincang dengan sopir bus yang ramah dan kelihatan kalem dengan gaya bicara khas Jawa Timuran yang kental, eits..ternyata supir bus ini memiliki skill ala tokyo drive di jalanan. Akhirnya bus berangkat, suasana masih gelap tapi suasana di jalan raya sudah ramai khas suasana kota besar. Kami melewati UPH dimana kampus yang jadi satu dengan mall, pikiran kami langsung melayang ke PKL fisik malang lalu. Bus memasuki tol yang saat itu masih sepi, setelah beberapa menit bus keluar tol dan memasuki jalan raya Porong. Disebelah kiri terlihat dinding penahan lumpur panas Porong yang terkenal itu. Suasana di jalanan makin ramai, banyak penumpang yang naik ke dalam bus yang kami tumpangi. Kebanyakan penumpang adalah perempuan, baik ibu-ibu yang akan ke pasar atau berangkat kerja, sebagian juga ada bapak-bapak yang akan berangkat kerja. Gaya supir bus Ladju ini memang kalem dan nggak ngebut tapi suka ¨nekat¨, bus Ladju memang cukup besar seukuran bus malam, tapi pak supir bus ini pandai menggiring bus untuk menyelinap disela-sela truk dan pembatas jalan, tidak cuma sekali, tapi berkali-kali, jadi waktu bus mau mendahului truk malah aku yang merasa deg-degan karena duduknya paling depan. Sekitar Kota Bangil, ada segerombolan ibu-ibu sekitar 10 orang yang naik bus, bus langsung penuh dan ada yang berdiri juga. Antara jalan Bangil-Pasuruan kami terjebak kemacetan cukup panjang, bus tidak mungkin mendahului dari kanan karena jalan hanya satu lajur, pak sopir pun memutar otak dan membelokkan bus besar itu ke bahu jalan dan mendahului kendaraan lain lewat kiri jalan layaknya motor yang menyusup di sela-sela kendaraan lain tapi ini bus besar. Untung bahu jalan cukup besar sehingga muat di lewati bus, tapi jalannya na´udzubillah tidak layak dilewati, ada suatu moment dimana bus melewati lubang besar dan dalam sehingga bus jadi sangat miring, banyak ibu-ibu yang berteriak karena memang posisi bus waktu itu banyak penumpang. Tapi pak sopir tenang-tenang saja dengan gaya khas kalemnya malah tertawa, hufte banget dah. Akhirnya bus berhasil keluar dari kemacetan tanpa halangan suatu apa.
Bus akhirnya memasuki Kota Pasuruan pukul 05:36, masih pagi tapi saat itu kota sudah ramai. Arsitektur Kota Pasuruan terdiri dari bangunan-bangunan gaya Belanda yang mencirikan kota ini adalah kota tua, benar saja di pinggir jalan kami melihat baliho dengan gambar Bupati dan wakilnya bertuliskan ¨Selamat hari jadi Kab. Pasuruan yang ke 1082, gilaa tua banget ni kota, bandingkan sama Temanggung kota tercintaku,hhehe. Bus terus melaju ke arah Probolinggo, jalannya bergelombang dan tidak nyaman, petualangan dengan bus Ladju terekam lagi. Saat bus melewati jembatan kecil tapi jalannya bergelombang parah, di depan bus ada becak yang melewati jembatan juga, bus melaju dengan hati-hati dan pelan. Sesudah bus melewati jembatan pak sopir tancap gas dan ¨Pprraaakkk¨ bus menyerempet becak tadi. Tukang becak tadi emosi lalu naik bus kemudian mencak-mencak sama si sopir dengan gaya madura. ¨Cak piye iki cak..bla..bla..bla...¨ tapi si sopir menanggapi dengan kalem saja, dia berbicara kurang lebih begini ¨Njaluk ijol piro¨ sopir bus pun turun dan melihat kerusakan becak. Entah bagaimana negosiasi mereka, aku memilih melihat dari dalam bus. Akhirnya sopir bus kembali ke kemudinya dan melanjutkan perjalanan, dalam bus sopir bus itu bicara sendiri ¨halah wong arep njaluk dana..tak tuku sak uwonge yo aku sanggup¨ kami berempat cuma senyum padahal didalam hati tertawa geli,wkwkwk. Dalam perjalanan Pasuruan-Probolinggo aku duduk disamping seorang ibu yang dari pakaiannya seperti pekerja kantoran dan sedikit ngobrol diperjalanan. Dari obrolan itu aku jadi tahu kalau sebagian besar orang pantura Pasuruan-Probolinggo itu adalah keturunan madura, pantas saja orang-orang yang mengobrol di sekitar memang memakai bahasa madura, aku juga dapat gambaran bagaimana keadaan Bromo karena ibu itu juga pernah ke Bromo. Dalam perjalanan ini kami juga bisa menikmati sunrise dari pantura Pasuruan karena kebetulan perjalanan kami juga ke arah timur. Akhirnya kami tiba di Terminal Probolinggo pukul 06:40, ibu tadi menyarankan untuk pergi ke Bromo agar naik elf biru yang biasa nongkrong di depan terminal. Kami turun dari bus, dan mengakhiri petualangan dengan bus Ladju saat itu. Tempat yang kami cari saat pertama tiba di terminal adalah mushola karena bisa sekalian Sholat Subuh *astaghfirullah. Kami menemukan mushola tapi terkunci rapat, setelah tanya-tanya mushola yang bisa digunakan berada persis di pintu keluar terminal. Kami istirahat di halaman mushola yang terkunci tadi sekitar 20 menit, sedikit istirahat setelah semalaman berada dalam bus cukup melelahkan juga.
Setelah cukup beristirahat kami berempat langsung cabut ke depan terminal untuk mencari elf biru yang di sarankan ibu tadi di dalam bus. Didepan terminal kami bertemu seorang bapak bertubuh kecil berambut putih memakai topi yang tahu dimana elf itu berada. Kami dibawa langsung ke sopir elf untuk negosiasi harga, sopir tersebut membadrol tarif Rp25000 untuk sampai ke Cemoro Lawang, pintu masuk wisata Bromo. Kami berusaha menawar, tapi sopir itu tetap kokoh dengan tarif yang kami rasa tinggi, maklum kami kan niatnya backpacking jadi kami berusaha dengan angkutan yang paling murah, kalupun ada truk kami mau menumpang, tapi sayangnya kami tidak tahu jalan,hhehe. Sopir tersebut menyuruh kami menaruh tas kami kedalam elf, tapi kami belum patah semangat untuk mencari angkutan yang lebih baik *baca: murah. Aku dan Topix mencari info angkutan lain yang murah meski harus di oper, kami mencari angkutan yang jurusan Sukapura terlebih dulu. Kami mendatangi gerombolan supir yang ada disitu, setelah ngobrol kami setuju dengan tarif Rp4000 untuk sampai Patalan, paling tidak dari sana bisa menumpang truk pikir kami. Akhirnya kami bisa menumpang angkot itu dengan skenario kami harus jalan kaki dulu kemudian angkot itu menyambahi kami, dan sip, kami setuju.


2 komentar:
:))
:p
Posting Komentar