Jumat, 03 Februari 2012

Backpacking to Bromo : Pengalaman tak terlupakan di tengah badai pasir (part I)

Ddrrrttt....ddrrttt, suara getar hp di ruang tengah.. ¨1 message received from Aziz Geo¨ --> ¨whi, nek mangkat ng bromo kamis bengi wae piye?¨ sebelum balas aku berpikir ¨kalau kamis malam berarti besok siang sudah harus balik Jogja, padahal tanganku juga belum sembuh benar, tapi apa mau dikata aku pengen banget ke Bromo, ya sudahlah daripada terus diundur dan jadinya gak jadi berangkat, aku harus rela menyingkat liburanku di rumah¨. Jari-jariku langsung merespon ke keyboard sony ericsson-ku dengan sedikit negosiasi dengan aziz dan akhirnya berakhir pada kesimpulan ¨oke ziz¨.
Liburan ke Bromo memang sudah diagendakan sejak lama antara Topix, Aziz, Aku dan Tofan, setelah mengajak teman-teman lain tapi mereka tidak bisa ikut berpartisipasi dengan alasan masing-masing, sampai H-1 sebelum keberangkatan baru terkumpul 4 anggota dan itu berlanjut sampai selangkah sebelum pintu bus.



Kamis, 26 Januari 2012
Hari ini aku harus balik ke kostku di Jogja, agak berat memang ingin meninggalkan rumah waktu itu. Jam menunjuk pukul 15 lebih sedikit, setelah berpamitan dengan Bapak, Mbak, si keci Nayla dan Ivan kakaknya, aku langsung meluncur ke Jogja, kebetulan waktu itu Ibuku tidak dirumah jadi aku hanya berpamitan lewat sms. Baru beberapa menit keluar dari rumah, ban depan motorku bocor #unpredictable, perjalananku ke Jogja akhirnya tertunda sekian menit karena harus merapatkan lubang di ban motorku. Akhirnya aku bisa sampai di Jogja sebelum maghrib. Di Jalan Affandi tapi jalan ini lebih populer disebut Jalan Gejayan aku belokkan motorku ke Gang Guru, gang yang tidak begitu lebar tapi selalu ramai dengan hiruk pikuk akademik, kebanyakan para calon pendidik. Tepat di depan gedung dekanat FIS aku berhenti, aku keluarkan sony ericsson-ku, aku sms Tofan, Aziz, dan Topix tentang persiapan mereka, keluargaku dirumah juga tak ketinggalan dapat sms dariku kalau aku sudah sampai Jogja.
Tofan sudah terlebih dulu sampai Jogja dia juga sedang mempersiapkan peralatan nesting dan sebagainya yang nantinya akan sangat berharga saat kelangsungan hidup kami di Bromo. Aziz masih berada di rumahnya, tapi sudah bersiap menuju kost Tofan, begitu juga dengan Topix, dia juga sudah bersiap berangkat menuju Jogja dari rumahnya. ¨daripada bolak-balik mending beli logistik dulu di Kopma UNY¨ pikirku. Setelah berbelanja logistik, akhirnya aku tiba di tempat tinggalku di perantauan depan Saphir Square. Setelah shalat maghrib, packing pun dimulai.
Packing untuk backpacker memang belum pernah aku lakukan, walaupun sudah beberapa kali *melancong tapi persiapan untuk menjadi backpacker harus dipersiapkan lebih matang apa lagi tujuannya ke gunung atau daerah bersuhu dingin, jadi pakaian ala naik gunung juga perlu dibawa. Alhasil packing kali ini merupakan perkawinan packing piknik dan naik gunung. Tas Alto sudah siap menampung barang yang perlu dibawa untuk petualangan kali ini. Packing selesai, saatnya menanyakan kabar dari kost Tofan. Ternyata semua sudah kumpul di kost Tofan, sementara itu aku lebih memilih menunggu mereka dikost karena kostku satu jalur dengan arah terminal.


Pukul 20:45, ddrrtt..ddrrttt ¨1 message received from Topix Geo¨ --> ¨gek ndang metu¨, sepertinya sekumpulan makhluk sudah ada didepan kostku. Benar saja saat aku mau keluar kost mereka bertiga sudah nyelonong didepan kamar, mereka bertiga sudah siap dengan ransel dengan bawaan mereka, tas Tofan berukuran paling besar, dia bawa tas carrier yang biasa digunakan untuk naik gunung. ¨Come on kids¨ suara Tofan seraya keluar dari kost dengan suara khasnya. Kami anggap Tofan sebagai ¨leader" dalam perjalanan kali ini, karena memang soal pengalaman lapangan dia yang paling banyak makan asam garamnya *jo GeEr fan. Langsung saja kami menuju tempat tongkrongan bus-bus yang menuju Surabaya, yap terminal Giwangan. Kami berempat berboncengan dengan dua motor menuju kesana, Tofan-Aziz dan Aku-Topix. Sesampainya di gerbang terminal Giwangan kami dicegat oleh petugas parkir, langsung saja kami menyambutnya bahwa motor kami akan bermalam sampai hari minggu. Tarif motor bermalam sampai minggu adalah Rp9000/motor. Motor sudah berada di posisi parkiran, dan siap untuk ditinggal berpetualang ke Bromo *selamat tinggal si biru dan si revo jangan nakal yaa. Langkah demi langkah kami telusuri terminal sambil mencari dimana tempat tongkrongan bus menuju Surabaya. Sebelumnya curhat dulu, transit di toilet *hhaha. Langkah dilanjutkan menuju terminal keberangkatan untuk jatah ke Surabaya, dari kejauhan sudah terlihat ada 3 bus yang nongkrong. Yang nongkrong paling depan namanya Sumber Kencono, lalu dibelakangnya Mira, dan yang paling belakang ada Sumber Selamat. Kami berempat makin mendekati bus-bus itu, kami hampir sepakat untuk naik Mira karena kami tahu track record bus Sumber Kencono yang ¨mengerikan¨. Sesampainya diantara bus-bus tersebut kami berhenti dan berdiskusi untuk memilih bus yang terbaik *baca:termurah, kami didekati salah satu kru dari bus SK panggilan akrab Sumber Kencono. Orang tersebut membadrol harga Rp34000 untuk sampai di Surabaya, entah apa yang terjadi kami tidak berpikir panjang langsung menyutujui harga tersebut. Dengan langkah agak ragu aku masuki bus yang terkenal "angker¨ itu. Bus ini sudah terkenal baik di tingkat nasional apa lagi di tingkat lokal, kabarnya tersiar diberbagai media massa, baik koran, tv, radio, atau internet bukan main prestasi bus ini. Tidak perlu disebutkan prestasi yang sering di raih oleh bus ini di jalanan. Keadaan dalam bus saat itu cukup kosong, hanya ada segelintir orang termasuk kami berempat. Bus SK bergegas dari terminal Giwangan pukul 21:30. Konon kabarnya bus ini juga terkenal express dibanding bus lain, benar saja baru ditinggal ngobrol sebentar kami sudah sampai di Prambanan, perbatasan DIY-Jateng. Hufte...semoga kami bisa sampai di Bromo dan kembali di Jogja dengan utuh, amin. Sekitar satu setengah jam pukul 22:59 kami sudah tiba di terminal Tirtonadi-Solo. Sekilas aku lihat ke belakang bus penumpang sudah cukup banyak, beberapa menit kemudian bus meninggalkan terminal untuk melanjutkan perjalanan mendebarkan ke Surabaya.

7 komentar:

Anonim mengatakan...

meninggalkan jejak dulu di halaman rumah seorang kawan jauh.. sila kunjung balik, Whiie

Wahyu Whi mengatakan...

wew...rumahmu terlihat lebih cantik..bikin iri hati saja :)
perlu belajar lebih banyak ini..

Anonim mengatakan...

yang penting kan isinya Whiiiee

wah, jangkauanmu udah luas Whie, tinggi pula. Jangankan Bromo, Sindoro-Sumbing pun aku belum menjamahnya :(
ini nih yg bikin ngiri...drt drt drt.

Wahyu Whi mengatakan...

tapi aku tak mahir dalam menyusun kata-kata..hhihi
Kita masih muda dul, masih banyak kesempatan...
Sumbing aku juga belum, mungkin bisa kita daki bareng.. :D

Amin Fitriyah mengatakan...

kalau mau ke sumbing aku juga diajakin ya whi,, ok ok, beneran lho,,h h

Wahyu Whi mengatakan...

oke mbak...Merapi sama Sumbing masih jadi impian ini..hiks..
besok kalo mau ndaki kabar-kabar juga ya mbak..

Amin Fitriyah mengatakan...

OK-OK..

Posting Komentar