Sabtu, 28 Januari 2012
"bangun...bangun.." sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang membuyarkan mimpi setiap orang yang ada dalam homestay.. Suara Tofan yang sedang membangunkan kami yang tertidur lelap, si Topix juga telah bangun dan ikut membantu Tofan menghancurkan setiap mimpi. "Ayo tangi" Topix menggoyangkan badanku, hoam..masih berat rasanya tubuh ini untuk bangkit. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 03:00, seperti yang sudah menjadi kesepakatan malam tadi, kami akan berangkat pukul 03:00 pagi agar tidak ketinggalan sunrise. Semua langsung menyiapkan diri, kecuali Aziz, dia yang paling susah bangun. Sudah berkali-kali kami menghancurkan mimpinya, tapi masih saja dia lengket dengan kasur dan selimutnya. Dengan usaha keras, akhirnya Aziz berhasil bangun dan mempersiapkan diri. Semua siap!! kami bertujuh sudah siap untuk melakukan perjalanan. Tujuan pertama kami adalah Penanjakan, suatu tempat yang tepat untuk melihat sunrise Bromo yang eksotis itu. Pintu dibuka "krekk", "bbbrrrrr" udara dingin langsung menyelinap masuk kedalam ruangan. Tapi niat hati sudah bulat, maka udara dingin pun sudah tak jadi masalah buat kami. Walaupun udara dingin, kami beruntung karena tiupan angin tidak seperti tadi malam, tiupannya membuat kaca jendela bergetar sepanjang malam. Kulihat suasana di Cemoro Lawang saat itu sangat sunyi. Kami menyusuri jalanan menuju Penanjakan berdasarkan informasi yang telah kami kumpulkan hari sebelumnya. Jalanan cukup lebar namun gelap, tiga cahaya senter yang menerangi perjalanan kami, sesekali kutengok ke atas dihamparan langit, kulihat beberapa bintang yang aku kenal, namun hanya sebagian karena sebagian lagi tertutup awan mendung.
Setapak demi setapak kami lalui jalur menuju Penanjakan, awalnya suasana sepi, lalu ada beberapa orang berkuda mendahului kami. Awal trek merupakan jalur yang lurus dan landai, tidak begitu berat memang tapi mbak Eka sudah merasa capek, ia pun dan mbak Ari akhirnya naik kuda sampai mulut barisan tangga. Sekitar 1 km jalan mulai menanjak dan membentuk zig-zag, kali ini Aziz yang merasa kelelahan, dia meminta untuk break beberapa kali. Kebetulan aku yang berada di belakang bersama Aziz, sedangkan Tofan, Topix, dan Hayeon berada di depan, awalnya jarak kami tak terlalu jauh tapi karena Aziz ingin istirahat, mereka bertiga sudah tak terlihat lagi. Dalam perjalanan kulihat kebawah, sorotan lampu berduyun-duyun menuju arah kami, ternyata itu adalah rombongan hartop yang membawa wisatawan dari Sukapura untuk melihat sunrise di Penanjakan tentunya. Kami berdua dengan langkah pelan tapi pasti menapaki tanjakan, kemudian suasana menjadi sangat ramai karena banyaknya wisatawan yang akan melihat sunrise dalam rangka weekend. Aziz terlihat semakin kelelahan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 lebih, akhirnya aku meninggalkan Aziz tapi dia tidak sendirian, karena banyak rombongan di sekitar Aziz berada. Dalam perjalanan ke atas, tidak jauh dari tempat tadi aku meninggalkan Aziz, jalur sudah berubah menjadi barisan anak tangga, namun sempit. Saat itu aku berada ditengah-tengah rombongan orang dari Eropa, jika dianalisis dari bahasanya kemungkinan dari Jerman *sok tahu. Tak lama kemudian aku sudah tiba di titik pemantauan sunrise. Tempat itu dipenuhi dengan orang-orang yang haus akan pemandangan indah. Akupun langsung mencari rombongan backpacker sederhanaku, aku temukan mereka berkumpul di dekat batu besar.
Suasana masih gelap, dan sang surya yang dinanti kemunculannya juga belum memberi tanda-tanda. Benar saja, waktu masih menunjukkan pukul 04:50. Tak lama kemudian Aziz berhasil melanjutkan perjalanan dan bergabung bersama kami untuk melihat sunrise. Suasana makin terang dan sang surya mulai memberi isyarat akan kemunculannya, ternyata ditengah keramaian Penanjakan terdapat banyak bertebaran perempuan muda yang dapat menambah indahnya sunrise. Gunung Batok dan Kawah Bromo juga terlihat jelas menambah pemandangan pagi itu semakin eksotis. Tidak habis pikir, sang surya yang ditunggu-tunggu kemunculannya tertutup awan mendung, kami harus rela melepas detik-detik kemunculan benda yang menjadi sumber kehidupan bumi tersebut. Walaupun sedikit kecewa, tetapi pemandangan Bromo saat itu tetap eksotis dan indah. Gunung Batok dan Kawah Bromo yang dikalungi padang pasir serta lekukan-lekukan tebing menjadi perpaduan sempurna yang khas. Cukup lama kami menikmati pemandangan yang memanjakan mata ini.
Pukul 07:00, saatnya perjalanan turun, tujuan perjalanan kali ini adalah kawah Bromo dengan Pura Luhur Poten yang terkenal dengan upacara Kasada-nya. Kawah Bromo sudah terlihat jelas dari Penanjakan namun kami harus menyeberangi padang pasir sebelum sampai ke kawah. Jika kami melewati jalan yang digunakan untuk survei kemarin maka kami harus memutar dan melewati Cemoro Lawang lagi, tentu saja hal ini tak akan kami lakukan. Kami melihat dari kejauhan goresan jalur untuk mencapai padang pasir dengan jalur lebih dekat, namun dengan track lebih menantang. Kami pun akhirnya turun melewati jalur tersebut dan ternyata adalah jalur yang sering di lewati kuda. Saat melewati track tersebut kami banyak bertemu dengan penduduk lokal yang selesai merumput dan kebanyakan adalah ibu-ibu, sungguh wanita perkasa dengan gulungan rumput di punggungnya. Pemandangan dari jalur tersebut lebih spektakuler daripada di Penanjakan tadi. Sesaat imajinasi kami tertuju pada suasana film The Lord of The Ring, padang luas dan tebing yang tinggi didominasi warna hijau mengisi pemandangan kami. Aku pun ikut takjub melihat pemandangan yang sangat indah ini. Sungguh lukisan alam dari Sang Pencipta yang tiada duanya, dari situ terbeslit rasa bangga pada Indonesiaku, apalagi disitu ada orang asing dalam rombongan kami, aku semakin berbangga karena dia pun ikut takjub. Perjalanan beberapa menit melewati jalur kuda, kami sampai di bawah, pemandangan luas dan datar sejauh mata memandang, terlihat Gunung Batok yang terlihat gagah. Mulut jalur kuda ini bertemu dengan muara sungai kecil yang berbentuk seperti ngarai. Dikombinasikan dengan ¨lantai¨ yang berwarna hijau menjadikan tempat ini seperti studio foto, kami banyak mengambil gambar ditempat ini. Setelah istirahat sejenak, perjalanan ke kawah Bromo dilanjutkan dengan melewati padang ilalang yang tidak begitu luas namun cukup banyak. Suasana romantis langsung menerpa ke setiap perasaan manusia. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati padang pasir, disini angin sesekali berhembus kencang dengan membawa partikel debu dan pasir. Kami harus membelakangi arah angin untuk menjaga mata dari terpaan pasir. Anggap saja ini sebagai pemanasan sebelum kami melewati badai pasir nanti. Semakin mendekati kawah terlihat puluhan hartop berbaris rapi yang menunggu setia setiap penumpangnya yang sedang menikmati kawah. Kuda Bromo juga banyak berlalu lalang. Kami semakin mendekat dengan Pura Luhur Poten tempat suci bagi masyarakat Hindu Tengger, rasa penasaran hinggap dipikiranku tentang apa yang ada di dalam pura itu. Semua pintu yang ada di pura tersebut di kunci, kami hanya bisa mengintip dari balik gerbang, pemandangan kosong dan gundukan pasir yang hanya terlihat. Kami hanya melihat pura dari luar.
Langkah kaki terus mengayun kearah puncak kawah, jalanan menanjak mulai menghadang kami, kali ini ditambah terpaan pasir yang semakin banyak. Kami berjalan sangat pelan dan harus menutup wajah kami agar tidak terkena terpaan pasir, semakin lama angin semakin kencang dan terpaan pasir semakin banyak. Sebelum mencapai barisan tangga Aziz bergumam karena kelelahan ¨Duwe konco kok ra duwe wudel, wong edan kabeh¨ kebetulan kami bertiga mendengar gumaman Aziz, Tofan malah tertawa geli mendengar celotehan Aziz itu, sepertinya kali dia benar-benar kelelahan. Setapak demi setapak kami telusuri anak tangga dengan kemiringan kurang lebih 60 derajat, cukup curam memang. Kami berjalan sangat pelan karena jalannya sangat menanjak. Akhirnya kami sampai puncak kawah, Aziz pun berhasil mencapai puncak walaupun tadi sempat bergumam. Kawah Bromo berwarna coklat pekat dengan genangan air berwarna hijau di tengahnya. Perasaan ngeri hinggap pada perasaan kami. Sekedar info, Bromo terakhir meletus pada bulan Mei 2011, jadi kawah yang kami lihat belum lama meletus. Sisa letusan dapat dilihat dari banyaknya tumpukan pasir yang berada disekitar kawah dan pohon yang terbakar disebelah utara kawah. Setelah puas menikmati kengerian kawah dan angin bertiup semakin kencang kami pun turun. Benar saja perjalanan turun ke bawah tidaklah mudah, angin yang bertiup semakin kencang membuat pasir yang beterbangan semakin mengganas, kulihat suasana di padang pasir, disana pasir menutupi udara sehingga udara berwarna coklat. Ngeri memang, baru kali ini kulihat badai pasir secara langsung.
Tujuan setelah kawah adalah savana, letaknya disebelah selatan kawah, hal ini berarti kami harus melewati badai pasir. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami akan istirahat dulu di sebuah bangunan permanen kecil di belakang toilet umum. Di tempat itu kami memasak mie dengan peralatan nesting kecil. Kami memang sudah kelaparan dan nyam..nyam.. hidangan mie lagsung habis. Kami cukup lama menunggu ditempat itu untuk menunggu angin reda, akan tetapi semakin siang justru angin semakin besar, bahkan ada yang berputar-putar seperti angin tornado kecil. Kami pun masih menunggu, waktu sudah menunjukkan pukul 11:00, anginpun tak kunjung reda. Akhirnya kami sepakat untuk nekat menembus badai menuju savana.
Kami persiapkan perjalanan yang belum dilakukan sebelumnya, perjalanan menembus badai. Aziz tidak ingin ikut bersama kami menuju savana, ia lebih memilih pulang ke homestay. Perjalanan pulang ke homestay pun Aziz harus menembus badai. Tidak jauh dari Pura Luhur Poten kami berpisah dengan Aziz, semakin jauh bayangan Aziz semakin memudar karena tertutup debu pasir sampai akhirnya benar-benar menghilang. Tutupan debu pasir saat itu memang cukup tebal. Kami mensetting kostum kami sedemikian rupa agar mata kami tidak kemasukan pasir. Satu lagi tantangan kami saat itu adalah kami tidak tahu dimana letak pasti savana, padahal saat itu kami tidak menemukan jalan. Kami berjalan menembus badai pasir dengan panduan tebing disekitar kami. "wuuussshhh...pyuuurrrr" "wuuusssshh..pyurrr" suara itu selalu menemani perjalanan kami. Alur pasir yang tertiup angin juga menarik perhatianku, pasir yang tertiup bergerak seperti alur mengikuti hembusan angin bentuknya unik, sehingga pasir-pasir seperti saling kejar. Lama kami berjalan, akhirnya kami menemukan jalan. Kami mengukuti jalan tersebut hingga kami keluar dari badai pasir, kami mulai melihat warna hijau di kejauhan. Kami lewati padang ilalang, padang bunga warna kuning, padang bunga warna ungu namun kami tak kunjung sampai ke savana. Kelelahan mulai menghampiri ke setiap backpacker nekat ini. Aku tanya Hayeon "Are you tired?" ia hanya mengangguk dan tersenyum. Sudah ribuan tapak kaki yang kami tinggalkan tapi kami belum juga sampai ke savana, setelah melewati jalan berpasir, tiupan pasir datang lagi, kami harus menutupi wajah kami lagi. Kami sudah tiba di padang ilalang lebat yang cukup luas dengan bukit yang mirip rumah teletubbies, dinding tebing juga berwarna hijau, "all is green" kata Hayeon. Akhirnya kami berhenti di tengah padang ilalang, karena kami tak tahu pasti letak savana secara pasti, maka kami anggap titik dimana kami berhenti terakhir dengan savana. Kami puaskan untuk menikmati pemandangan yang benar-benar menyejukkan. Padang ilalang dikombinasikan dengan gunung yang mirip rumah teletubbies, dengan semua tebing berwarna hijau, serta semilir angin Bromo, membuat ilalang seakan menari-nari lembut, mirip di film-film India, hhmmm... Petualangan yang sangat menyenangkan hari ini, yang diakhiri dengan perjalanan tak jelas menuju savana, namun semua kelelahan kami terbayar dengan pemandangan yang indah. Lukisan dari Sang Pencipta yang tiada duanya.
Pukul 14 lebih kami pulang, perjalanan kurang lebih 2 jam harus kami tempuh untuk mencapai homestay. Track memang datar, jalur yang lurus membuat kami merasa tak kunjung sampai. Sampai di ujung jalan menanjak menuju Cemoro Lawang, semua sudah berada pada puncak kelelahan, terutama mbak Eka, akhirnya mbak Eka menyerahkan dirinya untuk dibawa tukang ojek. Mbak Ari dan Hayeon sudah duluan berada di tepi Cemoro Lawang. Aku, Tofan, dan Topix menyusul mereka karena menemani mbak Eka dulu tadi. Dalam perjalanan keatas, kami menyalip rombongan mahasiswa dari Universitas Jember (UneJ), segerombolan wanita berkerudung, ada kegiatan outbond sepertinya. Kami berenam sudah berkumpul kembali di tepi Cemoro Lawang, dari titik itu kami membayangkan kembali perjalanan dari pagi buta tadi hingga petang hari. Sebelum kembali ke homestay kami mengisi perut dulu disebuah warung yang tak jauh dari homestay kami. Kali ini semua ditraktir entah mbak Eka ato mbak Ari yang jelas gratis,hhehe.. Kami tiba di homestay sekitar pukul 16:00, si Aziz sudah nongkrong didepan TV melihat tim kesayangannya bertanding, Persiba. Badan yang penuh debu dan pasir harus segera dibersihkan, air sedingin es adalah halangan terbesar untuk mandi tapi bagaimana lagi, kami harus mandi. Topix mandi terlebih dahulu, lalu aku, disusul dengan Tofan, kemudian Mbak Ari, Hayeon dan Mbak Eka tidak kebagian air karena kebetulan air mati, padahal Hayeon sangat ingin mandi saat itu, malang benar nasib orang ini. Aku tanya keluar ternyata saat itu semua akses air di Cemoro Lawang memang sedang mati. Tak lama kemudian listrik mati, lengkaplah sudah air dan listrik kini mati, semua berkumpul di ruang tamu. Saat itu suasana begitu hangat dengan berbagai candaan dan guyonan akrab, terutama mbak Eka yang terus menggoda Topix dan Aziz, sampai-sampai Hayeon berkata "here like a family", hhmmm...aku agak tercengang mendengar Hayeon berkata seperti itu. Tinggal sangat jauh dari keluarganya, kemudian dia tinggal bersama kami dan merasakan hangatnya keluarga di Indonesia, di Bromo, bersama kami,hhmm.. Perjalanan panjang sekitar 15 km telah kami lalui, kelelahan sudah merasuk melalui aliran darah ke sela-sela tubuh kami. Pukul 20:30 suasana sudah hening. Angin Bromo bertiup sangat kencang menemani tidur kami, menemani tubuh kami yang sedang memperbaiki sel-sel yang kelelahan. Perjalanan untuk menikmati keindahan Sang Pencipta dengan perjuangan, memang lebih nikmat rasanya. Terimakasih untuk petualangan yang sangat indah hari ini Ya Allah. Jangan biarkan kami sombong, jagalah kami untuk selalu tetap bersyukur atas segala yang Engkau berikan, segala yang Engkau ciptakan, Amin....
























8 komentar:
Wahyu ceritamu sangat super sekali,, aq jadi kangen Bromo, aq salut banget ma kalian jalan kaki sampai View Point,, wah-wah,, dari foto aq liat kawah Bromo berubah ya, setelah letusan kemaren,, bagus-bagus,, salutt pokoknya,,, itu memang Bromo gak pernah ada matinya,,he he. Good
wkwkw...lagi latihan mbak...emang dulu pas mbak Amin ke Bromo naek hartop ya...
Iya, kawahnya jadi tambah serem kayaknya, tapiBromo tetep eksotis,hhehe
iya, aq dulu pake hartop,, tapi kayaknya seru kalau jalan kaki dehh, banyak view yang bisa kita dokumentasikan, h h, katanya PKL Terpadu juga mau ke Bromo ya?berarti kmu bisa dua kali dong kesana?h h
hhaha...niat hati pake dana minim, jadi jalan kaki kesana kemari, kaki rasanya pengen lepas tapi emang sebanding ama pemandangannya mbak..wkwk
Tapi anak kelasku banyak yang gak setuju, mereka pdennya di Jogja aja, berat di ongkos,hhehe ntar liat keputusannya aja gimana mbak..
wauih keren...pengen lagi kesana dengan jalan kaki..paling rasanya kayak naik gunung beneran
mesti dicobain mbak keliling Bromo by foot...ada rasa tersendiri,..
Beda mbak soalnya ne jalannya landai,hhaha
iya tapi dinginnya sama kan?? hhh 8-}
hhahaha...hu'um mbak..
Posting Komentar